Arts Collaboratory

KUNCI Cultural Studies Center

    Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /www/site/modules/processwire-template-twig-replace-master/Twig-1.15.0/Twig/Extension/Core.php on line 1196  
Posted on: Thursday 16 May 2019
Projek kolektif @yellohelle, silakan hadir bagi yang di Jakarta dan sekitarnya. #Repost @yellohelle (@get_repost) ・・・ Sejak April 2019 yang lalu, saya bersama 8 puan menjumpai, membaca, mengetik, dan memaknai ulang sejumlah pemikiran yang ditulis oleh para perempuan di Taman Siswa dari arsip yang ada dalam majalah Poesara terbitan 1930-1940an. Gagasan ini bermula seusai mengikuti residensi di Sekolah Salah Didik KUNCI @cikunci Cultural Studies selama sebulan di Yogyakarta tahun 2017 lalu. Bersama 3 peserta residensi lainnya, kami dipertemukan dengan berbagai arsip Taman Siswa, termasuk majalah Poesara—terbitan rutin Taman Siswa yang menjadi kanal publikasi pemikiran kritis khas Taman Siswa semasa pra-kemerdekaan. Ternyata, di antara pemikiran para laki-laki pro-kemerdekaan masa itu, terselip pula pemikiran para perempuan yang banyak di antaranya tak lagi punya catatan sejarah. Sepulangnya ke Jakarta, saya mengajak @maesy_ang untuk mendigitalisasi arsip yang ada—yang ternyata menyambut baik ide ini. Sempat tertunda setahun lebih, namun akhirnya terwujud 2019 ini (terimakasih banyak sekali lagi, Maesy!) Kami mengajak sejumlah kawan dengan ragam latar belakang yang sekiranya tertarik untuk mengetik-ngetik ulang tulisan-tulisan lawas ini terkait poligami, pendidikan perempuan, peran kerja rumah tangga, komentar tentang Kartini, dan sebagainya. Bagi saya, membaca tulisan-tulisan perempuan Taman Siswa seperti naik roller coaster: naik-turun yang konstan, seringkali membuat terkesima, namun tak jarang membuat mengerutkan dahi karena pengemasan gagasan mereka yang seringkali harus disematkan sopan-santun khas priyayi. Itu menariknya pengalaman mengetik ulang ini: menjumpai kembali pemikiran perempuan Indonesia ketika banyak catatan sejarah terutama sejarah perempuan kritis yang diputus, dihilangkan, diberangus, atau didistorsi—dengan segala batasannya. Sabtu sore ini, saya, @maesy_ang, @ceritanye, @farhanahaha, @kanimonster_, @kanzha_vinaa, @nindysm, @jantinur, dan @transpuan mengajakmu untuk membaca dan mendiskusikan artikel-artikel ini bersama. Di @post_santa bersama @jurnalruang mulai pukul 16.00 sore. Sampai ketemu ya!